Bukanlah Iba
Juni 6, 2008
Dalam perjalanan di dunia ini seringkali kita mendapati sesuatu yag tak kita bayangkan sebelumnya. Bahkan terbersit pun tidak. Dan dari sekian itu, aku menemukan sosok sahabat yang teramat baik. Sahabat yang mungkin tak kan lama lagi kulihat di dunia ini.
Dia adalah sosok lelaki yang lumayan tampan. Perkenalan kami memang belumlah lama, tapi ada kedekatan hati yang masih saja belum bisa kupastikan kebenarannya. Apakah ketertarikan dan rasa suka ini karena simpati atau kah memang benar adanya tanpa perlu alasan yang basa-basi.
Dia kini berasa pada kondisi yang membuatku merasa perlu untuk ada di sisinya. Aku merasa bahwa dia teramat membutuhkanku. Dan ketabahannya dalam menjalani situasi ini, makin membuatku merasa bahwa dia sosok yang teramat disayngkan jikalau Tuhan kan segera mengambilnya.
Penyakit yang dideritanya kini telah membawa dia pada prediksi akan kenyataan yang pahit. Hanya tinggal hitungan bulan saja dia akan bertahan. Setidaknya begitulah menurut vonis dokter yang selama ini memeriksanya. Tapi kebenaran tetap ada pada putusan Tuhan. Karena manusia hanya bisa memperkirakan. Toh bisa jadi terjadi sebuah keajaiban. Kun fayakun, begitulah kuasa Tuhan yang kunantikan.
Kondisi fisiknya yang semakin hari semakin rapuh membuat hatiku makin tersentuh. Aku ingin utuh menghadirkan hatiku pada sisa waktu yang tersedia. Aku ingin membuatnya bahagia, setidaknya di akhir masanya menghirup udara dunia.
“Ya Allah, kuharap agar Engkau menjadikan akhir hayatnya khusnul hotimah. Atau jika Kau masih menyisakan waktu untuknya, berilah dia kesempata tambahan. Agar dia semakin mendekat pada-Mu. Amin!”